Koran Got , BuzzerRP Zaman Orde Lama

- Senin, 11 April 2022 | 07:26 WIB
Foto Rapat Raksasa di Jakarta 1965 ganyang PKI, zaman Orde Lama banyak propaganda melalui Koran Got atau sekarang dilakukan oleh BuzzerRP (Cabe)
Foto Rapat Raksasa di Jakarta 1965 ganyang PKI, zaman Orde Lama banyak propaganda melalui Koran Got atau sekarang dilakukan oleh BuzzerRP (Cabe)

HALLO JAKARTA - 18 juta sukarelawan dikumpulkan Front Pemuda siap untuk dikirim mengganyang Malaysia. (Ini kliping koran Bintang Timoer tanggal 25 Maret 1964 yang saya terima dari rekan sejarawan negara jiran).

Berita Bintang Timoer itu bohong dan tidak logis. Bintang Timur ternasuk salah 1 koran kategori Koran Got versi Mochtar Lubis selain Harian Rakyat, Warta Bhakti, Suluh Indonesia, Pemuda, dll.

Koran Got dalam istilah sekarang buzzerRp.
Indonesia mau kirim 18 juta sukarelawan ke Malaysia jelas tak masuk di akal, makan saja susah.

Koran Bintang Timoer mempunyai rubrik mingguan Lentera yang diasuh Pramudya Ananta Toer. Lentera ajang pembantaian seniman dan pengarang yang mereka tak sukai antara lain Buya Hamka.

Cara bekerja Koran Got sama dengan BuzzerRp sekarang. Menulis gaya intelek tapi banyak memutar balik fakta, atau bohong 100%. Misal saja US Dollar dicetak tanpa kolateral. Kalau benar, kok di Indonesia di-kurs 14.300 rupiah. Jelas hoax, ini untuk kepentingan oligarkhi yang ketakutan melihat perkembangan ekonomi Rusia dan pebisnisnya yang dengan mudah dihancurkan The West.

Aksi hari ini 11/4 mereka sadari sasaran strategisnya oligarki, yang lain-lain cuma sasaran antara. Atau sekadar objek kocak-kocakan. Untuk dapat mengendalikan sebuah eksekutif versi oligarki memang yang dijadikan tokoh harus si Kocak.

Aksi hari ini tak direaksi buzzerRp karena mereka kaget dengan perubahan sikap pemerintah. Mulanya dimunculkan Wiranto yang memberi khobar bahwa beliau berhasil bikin insaf BEM Nusantara tentang penundaan pemilu dan perpajangan masa jabatan Presiden. Hanya beberapa jam setelah itu Menko Polhukam pimpin rapat dan kemudian menyatakan aksi 11 April jangan diutak-atik. Hal yang sama disampaikan Panglima TNI dalam kesempatan berbeda. Lalu ada penjelasan pihak BEM Nusantara bahwa yang menemui Wiranto itu tak representatif.

Kalau tidak ada berada tak akan tempua bersarang rendah. Kata pepatah tua. Memang perintah ubah sikap terhadap 11/4 itu mengandung pertanyaan. Dan ini membuat BuzzerRP cep kelakep disumpel salep.

Apa yang terjadi sesungguhnya di tataran elit politik, tak mudah dipahami. Panglima TNI dua kali bertemu Ketua DPD. Sedangkan Ketua DPR dan Ketua MPR, kata orang Betawi, kagak di-lirik-lirik acan. Ini betul-betul persoalan politik yang menggoda untuk didalami. Moga-moga bagus untuk Indonesia. (Ridwan Saidi)***

Editor: A Toha Almansur

Sumber: Catatan Babe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tahun 1540 Yahudi Serbu Pasuruan

Kamis, 7 Juli 2022 | 08:34 WIB

Pyramid, Kamang dan Tiwaniku Masamba

Rabu, 6 Juli 2022 | 06:27 WIB

Orang-orang Portugis di Jakarta

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:16 WIB

Kapan Indonesia Bersenjata Api?

Senin, 4 Juli 2022 | 06:52 WIB

Dari Mana Penulisan Sejarah Dimulai

Sabtu, 2 Juli 2022 | 09:45 WIB

Golok Emas Wa Item

Selasa, 28 Juni 2022 | 06:36 WIB

Unur Jiwa, Makam Tuanku Raman

Senin, 27 Juni 2022 | 06:53 WIB

Peta Jakarta 1618, Kyai Arya Patih Majakatera

Minggu, 26 Juni 2022 | 06:46 WIB

Jin Buang Anak dan Tradisi Tutur Betawi

Jumat, 24 Juni 2022 | 08:10 WIB

Sunat Cara Egypt saja Berubah, Pun Kekuasaan

Selasa, 21 Juni 2022 | 06:19 WIB

Big Mouth Elite dan Narasi Sejarah

Senin, 20 Juni 2022 | 07:28 WIB

Syekh Siti Jenar (?)

Minggu, 19 Juni 2022 | 06:47 WIB

Kuat Tuntutan Kembali ke UUD 45, Now

Jumat, 17 Juni 2022 | 08:24 WIB
X