Kuat Tuntutan Kembali ke UUD 45, Now

- Jumat, 17 Juni 2022 | 08:24 WIB
Photo kiri-kanan; Didiek Purnomo, Jend Pur Tyasno Sudarto, RSaidi, seorang sobat) (Cabe)
Photo kiri-kanan; Didiek Purnomo, Jend Pur Tyasno Sudarto, RSaidi, seorang sobat) (Cabe)

HALLO JAKARTA - Sembilan anggota Dokoritsu Zyunbi Tsosakai BPUPKI penanda tangan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 tak pasti mendapat mandat pleno BPUPKI, karena itu sulit disebut sebagai panitia perumus. Sebutan Piagam Jakarta sebagai dokumen sejarah benar.

Dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikatakan Piagam Jakarta sebagai menjiwai dan tak dapat dipisahkan dengan UUD 45. Ini tak dapat diperdebatkan lagi. Bung Karno menempatkan dengan cerdas hubungan Piagam Jaiarta dan UUD 45.

Perubahan UUD 45 sebanyak empat kali yang dilakukan MPR Reformasi menghebohkan. Zwaakpunt, titik lemahnya pada cara-cara perubahan yang dilakukan onrechterlijk, tak pula ditempatkan dalam Lembaran Negara, sehingga Konstitusi perubahan onrechtlijk.
Reaksi atas perubahan muncul sejak 2003 melalui diskusi-diskusi terbuka, juga debat RS verrsus para juru cakap perubahan antara lain DR Adnan Buyung Nasution SH, dan penerbitan buku.

Kemudian ada gugatan hukum atas perubahan UUD 45 ke lembaga peradilan dan masih berproses di tingkat MA. Penggugat Dr Zukifli Ecomei. Jalan hukum ditempuh sejak 2020.
Aksi massa yang berjalan setidaknya sejak 2021 kini tidak lagi menuntut Jokowi mundur saja tapi sudah mengarah pada soal konstitusi juga. Semula ada suara yang berminat pada Reformasi jilid II, tapi sambutan dingin. Perubahan konstitusi saja efek dari reformasi.

Tuntutan perubahan politik yang tengah berlangsung makin kuat mengarah pada normalisasi sistem.

Pada 16/6/2022 di Gedung DPD Majelis Permusyarawatan Bumi Putera Indonesia menyerahkan mandat pada Ketua DPD LaNyalla untuk kembalikan UUD 45 hasil proklamasi RI.

Mantan Wapres Jend Purnawirawan Try Sutrisno dalam sambutannya mengatakan, Kalau dalam Islam beliau (LaNyala) ini kita panggil Syuhada, karena beliaulah yang akan berjuang menyelamatkan bangsa dari oligarki.

Seraya membaca berita itu saya pun terkenang kepada bapak-bapak dan ibu baik yang masih ada, atau yang telah berpulang ketika kami sejak 2003 memulai berjuang kembali ke UUD 45 yang asli. Mereka antara lain Ibu Supeni Pujobuntoro, mantan KSAD Jend Purnawirawan Tyasno Sudarto, Kwik Kian Gie, Wakil Ketua DPR Sutarjo, Prof Sumantri SH, Amin Aryoso, Didiek
Purnomo, dan Ridwan Saidi.

(Ridwan Saidi/Catetan Babe)**

Editor: A Toha Almansur

Sumber: Catatan Babe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia dan Perjanjian Internasional

Selasa, 16 Agustus 2022 | 06:11 WIB

Bina Keakraban Lagi Dengan Jagung, Bung

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:50 WIB

Pentil Kebakar: Toponim Bukan dari Akronim

Kamis, 11 Agustus 2022 | 06:20 WIB

Masjid Kota Inten 1540

Rabu, 10 Agustus 2022 | 07:40 WIB

Antara Lady Gaga dan Kampung Gaga

Selasa, 9 Agustus 2022 | 08:31 WIB

Kapan China Ungguli Taiwan?

Senin, 8 Agustus 2022 | 06:04 WIB

Dunia Menjelang Konstelasi Baru

Jumat, 5 Agustus 2022 | 07:46 WIB

Administrasi Kampung Betawi Era Dulu

Rabu, 3 Agustus 2022 | 07:06 WIB

Relasi sejati MH Thamrin - Jago Betawi

Selasa, 2 Agustus 2022 | 07:18 WIB

Becokok Glodok vs Bang Ja'man Jago Betawi

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:30 WIB

Bunga Tanjung dan Baku-Imbang Global

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:46 WIB

Asmara dan Elmaut di Peca Kulit 1771-1772

Kamis, 28 Juli 2022 | 06:32 WIB

Krekot dan Kroket

Rabu, 27 Juli 2022 | 06:28 WIB

Masigit Lama Banten

Selasa, 26 Juli 2022 | 06:28 WIB

Maen Pukulan Plus Guru Cit

Minggu, 24 Juli 2022 | 06:30 WIB

Lonjakan Sebaran Bahasa Betawi

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:31 WIB

Berkelana Jemput Ular

Jumat, 22 Juli 2022 | 07:03 WIB
X