Kritik Paling Tajam dari Prof Kaelan atas UUD 45 Perubahan

- Sabtu, 25 Juni 2022 | 13:22 WIB
Prof Kaelan, bicara soal perubahan UUD 45 (Cabe)
Prof Kaelan, bicara soal perubahan UUD 45 (Cabe)

HALLO JAKARTA - Menurut Siaran Pers Ketua DPD RI 23/6/2022 Pakar hukum Prof Kaelan, MS di Jogjakarta mengatakan UUD 45 bukan diamandemen, tapi diganti.

Argumentasi Prof Kaelan didasarkan pendekatan hukum konstitusi. Pendekatan ini selama hampir 20 tahun tidak dihirau para defender perubahan UUD 45.

Hukum konstitusi menekankan pada prosedur perubahan. Defender abaikan prosedur sehingga hasil yang mereka bela-bela itu ditolak penempatannya dalam Lembaran Negara karena format tak dikenal.

Prosedur perubahan verfassung anderung, menurut Prof Kaelan, perubahan yang diatur dalam UUD sendiri. Menurut saya UUD 45 tidak mengatur verfassung anderung. Verfassung wandelung, menurut Prof Kaelani, prosedur perubahan di luar yang diatur UUD.

Dalam teknik perubahan yang dikenal amandemen, tambahan. Kata Prof Kaelan terdapat sekitar 90% pasal-pasal UUD 45 yang diubah/diganti. Ini, kata Kaelan, bukan amandemen tapi renew, mengganti. Apalagi konten pasal-pasal tersebut tidak konsisten dan koheren dengan Pancasila, kata Kaelan.

Dengan janji mempertahankan Pembukaan UUD yang mengandung kelima sila Pancasila, kaum reformasi seolah hanya mengubah substansi yang tidak prinsip, sejatinya tidak demikian. Reformasi dengan sistemnya sendiri membuat UUD baru.

Mengingat kehancuran demi kehancuran yang timbul akibat pemberlakuan (secara politieke macht) UUD Reformasi, misalnya saja tersebarnya kuman oligarkhi yang pandemik dengan pelbagai varian.

Saatnya untuk memberlakukan UUD 45 asli. Perubahan dengan addendum. Sepatutnya berpikir ulang, pemberlakuan peraturan perundangan, apalagi UUD, dengan politieke macht bukankah itu smokkelijke recht (penyelundupan hukum)? (Ridwan Saidi/Catatan Babe)***

Editor: A Toha Almansur

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia dan Perjanjian Internasional

Selasa, 16 Agustus 2022 | 06:11 WIB

Bina Keakraban Lagi Dengan Jagung, Bung

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:50 WIB

Pentil Kebakar: Toponim Bukan dari Akronim

Kamis, 11 Agustus 2022 | 06:20 WIB

Masjid Kota Inten 1540

Rabu, 10 Agustus 2022 | 07:40 WIB

Antara Lady Gaga dan Kampung Gaga

Selasa, 9 Agustus 2022 | 08:31 WIB

Kapan China Ungguli Taiwan?

Senin, 8 Agustus 2022 | 06:04 WIB

Dunia Menjelang Konstelasi Baru

Jumat, 5 Agustus 2022 | 07:46 WIB

Administrasi Kampung Betawi Era Dulu

Rabu, 3 Agustus 2022 | 07:06 WIB

Relasi sejati MH Thamrin - Jago Betawi

Selasa, 2 Agustus 2022 | 07:18 WIB

Becokok Glodok vs Bang Ja'man Jago Betawi

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:30 WIB

Bunga Tanjung dan Baku-Imbang Global

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:46 WIB

Asmara dan Elmaut di Peca Kulit 1771-1772

Kamis, 28 Juli 2022 | 06:32 WIB

Krekot dan Kroket

Rabu, 27 Juli 2022 | 06:28 WIB

Masigit Lama Banten

Selasa, 26 Juli 2022 | 06:28 WIB

Maen Pukulan Plus Guru Cit

Minggu, 24 Juli 2022 | 06:30 WIB

Lonjakan Sebaran Bahasa Betawi

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:31 WIB

Berkelana Jemput Ular

Jumat, 22 Juli 2022 | 07:03 WIB
X