Pentil Kebakar: Toponim Bukan dari Akronim

- Kamis, 11 Agustus 2022 | 06:20 WIB
Foto penumpang bus kota Jakarta 1950-an. Damai dan mengilhami (Cabe)
Foto penumpang bus kota Jakarta 1950-an. Damai dan mengilhami (Cabe)

HALLO JAKARTA - Toponim nama tempat yang mulai ada sejak era cafe life 9000 tahun lalu (Grunn, 1984).

Tidak ada toponim dari akronim, gabungan potongan kata-kata. Itu marak di zaman Bung Karno: Ampera, Manipol, Inda Madam (Ini dadaku mana dadamu), bahkan ada pentil kebakar (penjaga tilpon kecamatan baru mekar).

Zaman Belanda yang ada potong leter. Batavia Centrum jadi Batavia Ct. BVC Bataviasche Voetbal Club. Kita ikut-ikutan TST Tau Sama Tau

Toponim pertama belum ada pengaruh luar, pengaruh luar baru setelah kedatangan orang Maya 3050 tahun lalu yang disusul dengan Egypt IV SM dan seterusnya.

Nama-nama gua itu asli native, misalnya yang di Jakarta: Liang Bo, Tenabang, Jambul, Sekot, Kapitan. Artinya berturut-turut lubang hunian, panggilan bumi, membukit, tarikan, lubang ganda.

Tapi, nama gunung sudah pengaruh migran: Salak itu perak (Egypt), Gede itu insan (Persia), toponimnya Bojong Gede dan Pondok Gede.

Sekarang lagi musim orang memahami toponim dengan memperlakukannya sebagai akronim dimana ada unsur proper name seorang jago.
Marunda: Mak Ronda, emak-emak jago.
Poris: Pok Ris empok-empok jago.
Tangerang: tengger + rang. Rang itu perang. Wilayah batas perang.

Marunda bahasa Melani karena ada ciri awalan mar. Unda adalah undak. Marunda terrazering.

Poris dari polis (Greek) artinya kota/urban
Tangerang Bahasa Melayu. Awalan ta membentuk kata benda. Ngerang tarjamah hymn (Egypt).

Hymn, atau hymne, nyanyian syahdu yang merintih atau mengerang.

Halaman:

Editor: A Toha Almansur

Sumber: Catatan Babe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Che Putat, Che Liwung dan Che Guevera

Kamis, 6 Oktober 2022 | 07:44 WIB

Masuk Sekolah Rakyat Sistem Colek kuping

Rabu, 5 Oktober 2022 | 06:47 WIB

Faktor Waktu dalam Pencapresan Anies Baswedan

Selasa, 4 Oktober 2022 | 06:35 WIB

Schouwburg Pasar Baru

Minggu, 2 Oktober 2022 | 06:17 WIB

Ekor Gerakan 30 September: Gedung RRT diduduki Pendemo

Jumat, 30 September 2022 | 06:11 WIB

Strategi: Masalah Kesabaran dan Waktu

Kamis, 29 September 2022 | 06:34 WIB

Asal Usul Pasar di Betawi

Rabu, 28 September 2022 | 07:04 WIB

Politik Indentitas, Stempel Tanpa Penjelasan

Senin, 26 September 2022 | 06:46 WIB

Kata Pakar Asing: Betawi Turunan Budak

Kamis, 22 September 2022 | 06:23 WIB

Payung Fantasi dan Kekuasaan

Rabu, 21 September 2022 | 06:32 WIB

Siri Tampi Hormati Adat

Selasa, 20 September 2022 | 07:05 WIB

Toko Banzai di Pasar Baroe

Sabtu, 17 September 2022 | 07:52 WIB

Safety Velve: Sambo dan Simbolon

Jumat, 16 September 2022 | 06:55 WIB

NKRI Harga Mati Bukan Harga Naik

Rabu, 14 September 2022 | 07:26 WIB

Gerakan Mahasiswa dan Panggilan Revolusi

Selasa, 13 September 2022 | 05:50 WIB

Kronologi Beragama di Betawi X SM - XIX M

Senin, 12 September 2022 | 06:41 WIB
X