Iftitah Muktamar Muhammadiyah, Haedar Nashir Ajak Muktamirin Introspeksi Kelebihan dan Kekurangan Persyrikatan

- Sabtu, 19 November 2022 | 19:19 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berikan pidato Iftitah dalam Muktamar Muhammadiyah 48 di Surakarta  (Ist)
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berikan pidato Iftitah dalam Muktamar Muhammadiyah 48 di Surakarta (Ist)

HALLO JAKARTA  - Sidang pleno 2 Muktamar Muhammadiyah menghadirkan Pidato Iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir di depan peserta muktamar di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu sore, 19 November 2022.

Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan pidato Iftitah sekitar 20 menit. 10 menit pertama, Haedar Nashir melalui mimbar panggung sidang muktamar, menyampaikan 3 pertanyaan instrospektif bagi para peserta muktamar Muhammadiyah.

Dalam pandangan Haedar Nashir, Muhammadiyah tumbuh berkembang menjadi kekuatan strategis bangsa tingkat nasional dan internasional.

Muktamar Muhammadiyah kali ini dilaksanakan bersamaan dengan MIlad 110 tahun yang jatuh pada hari kemarin ketika kita melaksana tanwir Muhammadiyah (Minggu, 6 November),” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2015-2022 tersebut.

Disampaikan Haedar Nashir, usia 110 tahun merupakan perjalanan panjang dan Muhammadiyah jadi satu-satunya organisasi Islam tertua yang masih bertahan menjadi organisasi terbesar.

“Kesyukuran kita itu tentunya harus kita jadikan modal strategis kita melangkah ke depan menjadi lebih baik lagi sehingga Muhammadiyah dalam mengembangkan misi dakwah dan tajdid menjadi kekuatan yang lebih berkualitas bahkan unggul dalam berbagai aspek kehidupan yang jadi bidang garap,” kata Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.

Haedar Nashir mengatakan, ada pertanyaan besar yaitu bagaimana spirit Muhammadiyah mengemban misi Waltakum mingkum ummatuy yad'ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma'rụfi wa yan-hauna 'anil-mungkar sekaligus juga membangun khoiru ummah yang menjadi cita-cita Muhammadiyah dapat diformulasikan untuk mewujudkan masyarkat Islam yang memberi rahmat semesta alam.

"Gerak kemajuan ini tentu jadi agenda kita untuk bermuhasabah, berintrospeksi bagaimana dalam usia 110 tahun kita bisa mengagregasikan kemajuan dan etos kemajuan yang sudah kita miliki dan pada saat yang sama kita tahu kekurangan dan kelemahannya. Kita sudah cukup untuk mendaftar kemajuan-kemajuan yang kita peroleh dan itu bentuk dari tasyakur kita,” kata Dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Haedar Nashir mengatakan, sekarang Muhammadiyah menghadapi dinamika baru dalam kehidupan manusia di tingkat global maupun dinamika internal dari wilayah, daerah cabang dan ranting yang memiliki kondisi beragam.

“Sehingga sejumlah pertanyaan sebagai wujud kita dalam bermuhasabah dapat dimunculkan.
Pertama, kita bisa bertanya apakah jamaah di ranting, kawasan masjid, mushala dan pengajian dan berbagai aktifitas keagamaan dan kemasyarakatan di masyarakat lingkungan Muhammadiyah yang ada masih tergarap dengan baik bahkan semakin baik atau mengalami stagnasi bahkan kita teralienasi dari dinamika yang terjadi,” terang Ketua Umum PP Muhammadiyah berusia 64 tahun itu.

Halaman:

Editor: A Toha Almansur

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gol Bunuh Diri

Minggu, 27 November 2022 | 06:03 WIB

Korban Meninggal Gempa Cianjur Terus Bertambah

Selasa, 22 November 2022 | 06:42 WIB
X