Masjid Kebayuran dan Buya Hamka

- Jumat, 10 Juni 2022 | 07:39 WIB
Masjid Al Azhar Kebayuran (Cabe)
Masjid Al Azhar Kebayuran (Cabe)

HALLO JAKARTA - Menulis dan menyebutnya memang Kebayuran dari kata Bayur. Bayur jenis jati pterospermum javanicum. Ini jati ringan. Material untuk daun pintu dan jendela juga perahu dan kapal. Di tahun 1905 Belanda tebang 110 ribu batang bayur di Jawa.

Pembangunan Kebayuran dilakukan sejak tahun 1948 di zaman pendudukan Jakarta oleh NICA. Pembangunan dikelola oleh Centraal Stichting Wederopbouw CSW tahun 1948 hingga 1949, kemudian CSW lanjut sampai periode Walikota Syamsurizal berakhir tahun 1953 di zaman NKRI.

Lahan untuk pembangunan masjid sudah tersedia di Jl Sisingamangaraja. Pembangunan masjid dilaksanakan panitia lokal dan selesai sebelum Dekrit Presiden.
Akhir 1950-an Buya Hamka berdiam di Jl Palatehan dekat masjid Agung Kebayuran. Begitu sebutannya. Jamaah mengangkat Buya sebagai Imam Besar masjid.

Suatu hari di awal 1960-an Syekh Al Azhar Machmud Syaltut dari Mesir ke Indonesia dan shalat Jumat di masjid Kebayuran. Buya minta Syekh memberi nama pada masjid Agung Kebayuran. Syekh Syaltut menamakan Al Azhar.

Ketika Orde Lama dengan sokongan PKI makin keras berperilaku terhadap Islam di tahun 1962, umat tiap Jumat dari mana-mana sembayang di Al Azhar mencari kesejukan mendengar khutbah Buya Hamka. Saya pun bersepeda ke Al Azhar dari Sawah Besar

Suatu hari di tahun 1963 jamaah tak lagi dapat mendengar khutbah Buya Hamka. Beliau ditangkap dan di penjara. Di tahun itu seorang tokoh pejuang dan aktivis Masyumi Kyai Syam'un bikin hajatan di rumahnya di Kampung Mauk Tangerang putranya berkhitan. Tokoh-tokoh Masyumi yang hadir antara lain Hamka dan Gazali Syahlan. Badan Pusat Intelejen yang dipimpin Subandrio mendakwa itu bukan hajatan tapi rapat gelap. Petugas BPI tangkap semua tokoh Masyumi yang ada di situ termasuk sahibul hajat Kyai Syam'un. Mereka dijebloskan di tahanan tanpa diadili. Tahanan politik itu juga disiksa. Saya bezoek Gazali Syahlan di tempat tahanannya di Cipanas. Ia disiksa, mulutnya distroom.
Seluruh tahanan politik baru hirup udara bebas setelah terbit Orde Baru tahun 1966. (Ridwan Saidi/Cabe).***

Editor: A Toha Almansur

Sumber: Catatan Babe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Isa Anshori Masyumi dan DN Aidit PKI Semeja Makan, Lho?

Minggu, 25 September 2022 | 07:56 WIB

Club Motor Ismail Marzuki (Betawi Berprestasi I)

Jumat, 23 September 2022 | 06:06 WIB

Come September, Bulan Yang Dinanti

Senin, 19 September 2022 | 06:32 WIB

Mat B atau Ahmad Bey Sosok Jagoan dari Senen

Minggu, 14 Agustus 2022 | 06:50 WIB

Masnah, Sang Maestro Gambang Kromong

Kamis, 30 Juni 2022 | 06:50 WIB

Dunia Melayu Abdul Khalik Gang Kelingkit

Kamis, 16 Juni 2022 | 06:16 WIB

Masjid Kebayuran dan Buya Hamka

Jumat, 10 Juni 2022 | 07:39 WIB

Manuver Partai Non KIB

Selasa, 7 Juni 2022 | 07:12 WIB

lndonesia Bersatu, Pas Berpeluang Pas Cocok

Senin, 6 Juni 2022 | 06:26 WIB

Aksi Massa Masa ke Masa, Pro Fahmi Idris

Kamis, 26 Mei 2022 | 07:34 WIB

Haji Jap A Siong

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:54 WIB

Arya Ranamanggala ZION yang Syahbandar

Selasa, 10 Mei 2022 | 08:51 WIB

Syahbandar Sunda Kalapa Wa Item

Senin, 9 Mei 2022 | 08:19 WIB
X