Arsitektur Multikultural di Masjid Angke

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 08:12 WIB
 (Masjid Angke masjid yang berarsitektur mulitkultur (Foto Jakarta Islamic Centre) )
(Masjid Angke masjid yang berarsitektur mulitkultur (Foto Jakarta Islamic Centre) )

HALO JAKARTA. Masjid Kuno Angke atau Masjid al Anwar adalah salah satu masjid yang mempunyai nilai multikultural di. Masjid Angke yang didirikan tahun 1761 kini masih kokoh berdiri. Arsitektur masjid ini adalah campuran dari pengaruh budaya Jawa, Bali, Arab, Eropa dan Cina.


Dari segi arsitekturnya, pengaruh budaya Jawa jelas terlihat dari atap tumpang dan bangunan bujur sangkar serta empat saka gurunya. Sedangkan pengaruh Eropa tepatnya Belanda bisa dilihat dari lubang lain di atas pintu yang mempuyai hiasan, pola dan warnanya mirip dengan gedung peninggalan Belanda yaitu gedung Arsip Nasional. Pengaruh Arab pada bisa dilihat dari teralis jendela maupun teralis tangga di loteng.

Pengaruh budaya Bali juga terlihat di beberapa sudut masjid. Bahkan sejarawan Denys Lombard dan juga Adolf Heuken cenderung menganggap orang-orang Bali itulah yang membangun masjid tersebut. Dugaan ini diperkuat oleh arsitektur masjid yang untuk sebagiannya berciri budaya Bali. Tercatat pula bahwa pada tahun 1804, seorang kapitan (pemimpin) suku Bali bernama Mohammad Paridan Tousalette Babandan telah menyumbangkan perolehannya dari sewa dua puluh lima rumah petak miliknya di daerah Patuakan (kini kawasan Jl Perniagaan) untuk kas Masjid Angke.


Pengaruh budaya Cina terlihat dari ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung. Gaya bangunan ini hanya terlihat dari rumah orang Cina kuno yang ada di berbagai kota di Indonesia. "Itu pengaruh Cina, "Bahkan nanti pemilihan warna itu sudah hampir warna-warna yang sifatnya orang Tionghoa buat di bangunan-bangunan Batavia pada saat itu," ungkap Candrian seorang arkeolog.

Masjid Angke resminya bernama masjid Al Anwar yang di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat Menurut cerita lisan masjid ini digagas oleh seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bernama Tan Nio yang makamnya ada di belakang masjid. Makam tersebut merupakan kuburan orang-orang dari berbagai macam etnik seperti Jawa, Betawi, Arab hingga Cina.

Ada makam Syekh Liong Tan orang yang diyakini sebagai arsitek masjid Angke di komplek pemakaman tersebut. Di komplek masjid juga terdapat makam Syarif Hamid Alkadrie, salah-seorang keturunan Sultan Syarif Abdurrahman al Kadrie, pendiri Kesultanan Pontianak yang dibuang ke Batavia pada tahun 1854.

Masjid Al Anwar atau Masjid Angke berdiri diatas tanah seluas 400 meter persegi. Masjid ini termasuk berukuran kecil yaitu 15 x 15 meter. Gapura Masjid Angke ini yang terletak di sebelah utara dan bentuknya masih asli. Masjid Angke telah dipugar beberapa kali namun tidak kehilangan ciri-ciri asalnya. Antara tahun 1919 dan 1936 masjid ini pernah terbengkalai, akan tetapi dipugar kembali pada tahun 1951 dan sekarang menjadi cagar budaya.

Editor: Nurul Huda

Sumber: Berbagai sumber

Tags

Terkini

Jaringan Ulama Revolusi

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 06:38 WIB

Arsitektur Multikultural di Masjid Angke

Jumat, 5 Agustus 2022 | 08:12 WIB

Sejarah Halal Bihalal

Jumat, 8 April 2022 | 07:11 WIB

Stasiun Pasar Senen, Penampilannya Semakin Keren

Minggu, 13 Februari 2022 | 18:56 WIB

Anies Baswedan dan Anak-anak Papanggo

Minggu, 2 Januari 2022 | 20:12 WIB
X