Jaringan Ulama Revolusi

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 06:38 WIB
Foto ulama se-Jakarta kumpul di mesjid Matraman 1952 membahas bangkitnya komunis setelah Madiun. Baris depan ki-ka Guru Mansur Jembatan Lima, H. Agus Salim, Ustadz Ali Alhamidi Matraman. Mereka adalah Ulama Revolusi  (Ist)
Foto ulama se-Jakarta kumpul di mesjid Matraman 1952 membahas bangkitnya komunis setelah Madiun. Baris depan ki-ka Guru Mansur Jembatan Lima, H. Agus Salim, Ustadz Ali Alhamidi Matraman. Mereka adalah Ulama Revolusi (Ist)

HALLO JAKARTA - 17/8/1945 jatuh bulan Ramadhan. Ali Al Hamidy seorang ulama yang tinggalnya tak jauh dari Pegangsaan, tempat proklamasi.

Ustadz Ali, begitu ia dipanggil, merancang bikin shalat Ied di halaman Pegangsaan dengan Imam dan Khatib M. Natsir yang kala itu tinggal di Bandung. Bung Karno akur.

Beberapa hari jelang lebaran Natsir beri tau Ustadz Ali yang beliau tak dapat ke Jakarta karena tak ada spoor (KA). Tapi shalat Ied tetap jalan, dengan imam dan khatib Ustaz Ali.

Buat saya sulit sekali wawancara Ustadz Ali karena beliau tak henti berjenaka, harus tahu cara menyela.

Menuru Mufreni Mukmin perancang rapat raksasa di Gambir tanggal 19 September 1945 untuk dukung proklamasi Mr Roem dan Mufreni. Mereka kontak Kyai Nur Ali Bekasi, Haji Darip Klender, Kyai Syam'un Kampung Mauk untuk kerah massa.

Saya pernah bertemu Kyai Nur Ali. Orangnya jarang bicara, ia lebih suka mendengar. Dengan Haji Darip juga saya sempat bertemu.
Guru Mansur Jembatan Lima keponakan Junaid Al Batawi juga kerahkan massa ke Gambir. Kyai Soleh Iskandar juga datang dari Bogor membawa massa. Rapat raksasa itu sukses.

Januari 1946 Belanda duduki kembali Jakarta. Peristiwa ini direspon oleh Guru Mansur dengan kibarkan bendera di menara masjid Jembatan Lima. Rumah Guru Mansur dikepung tentara NICA. Belanda itu suruh Guru Mansur turunkan merah-putih, Guru Mansur menolak. NICA tembaki sang saka yang berkibar di menara masjid. Lalu tentara NICA itu pergi, dan sang saka tetap berkibar.

Para ulama itu: Kyai Nur Ali, Syam'un, Ali Al Hamidy, Guru Mansur, Soleh Iskandar tetap bersahabat sampai hari tua mereka. Dengan Mr Roem mereka juga terus berhubungan baik.
(Ridwa Saidi/Catatan Babe).***

Editor: A Toha Almansur

Sumber: Catatan Babe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jaringan Ulama Revolusi

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 06:38 WIB

Arsitektur Multikultural di Masjid Angke

Jumat, 5 Agustus 2022 | 08:12 WIB

Sejarah Halal Bihalal

Jumat, 8 April 2022 | 07:11 WIB

Stasiun Pasar Senen, Penampilannya Semakin Keren

Minggu, 13 Februari 2022 | 18:56 WIB

Anies Baswedan dan Anak-anak Papanggo

Minggu, 2 Januari 2022 | 20:12 WIB
X