Ketua Komisi Keluarga KWI Pimpin Misa Pemberkatan Nikah Pasutri Diaspora NTT di Jabodetabek

- Selasa, 22 November 2022 | 07:18 WIB
Tujuh pasutri yang diberkati Ketua Komisi Keluarga KWI
Tujuh pasutri yang diberkati Ketua Komisi Keluarga KWI

HALLO JAKARTA - USKUP Keuskupan Tanjung Selor, Mgr Paulinus Yan Olla MSF yang juga Ketua Komisi Keluarga KWI (Konfrensi Wali Gereja Indonesia) memimpin misa pemberkatan pernikahan massal pasangan suami-istri (pasutri) Katolik diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) di Aula Pusat Pastoral (Puspas) Samadi, Klender, Jakarta Timur, Ahad (20/11).

Pasutri yang diberkati Ketua Komisi Keluarga KWI Mgr Paulinus Yan Olla MSF adalah: Fabianus Indrawan-Lesta Neng Parung, Hubertus Aur-Yustina Majabubun, Yosef Alifandri-Maria Oda Elisan, Agustinus Ganti-Maria Goreti Manur, Venansius Alfianus Kase-Maria Dhiu Bate, Antonio Alfiano Saratoga-Visna Rivantai dan Vicky Fernando Baptista-Wihelmina Timbu.

Mgr Paulinus Yan Olla MSF yang belum lama menjadi Ketua Komisi Keluarga KWI, menyentil soal budaya belis atau mahar di NTT, karena tak sedikit upacara perkawinan di gereja tertunda karena adat istiadat.

"Bagaimana pernikahan yang diteguhkan itu harus dijalankan dan dihayati. Adat-adat kita yang sulit bagi kita untuk kita bebaskan sehingga banyak perkawinan kita tertunda karena banyak adat-istiadat," kata Mgr Paulinus Yan Olla MSF dalam khotbah Pemberkatan Nikah Masal.

Acara pernikahan massal ini diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) dan Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Flobamora Jakarta yang diikuti tujuh pasutri dari kawasan Jabodetabek.

Mgr Paulinus Yan Olla MSF mencontohkan mahar pernikahan suku Adonara di Flores Timur, NTT, yang menggunakan gading gajah. Hal yang sama juga terjadi di pulau Sumba, NTT yang harus membawa sapi dan kerbau.

"Orang di Adonara, tidak ada gajah tetapi belisnya (mahar-red) gading, di Sumba juga sama. Kalau lamar anak orang harus bawa sapi, kuda, kerbau, macam-macam. Kami di Kalimantan Utara sama juga. Orang lamar bukan dengan sapi atau kuda tetapi dengan tempayan," cerita Mgr Paulinus Yan Olla MSF.

Peliknya persoalan adat tersebut, menurut Mgr Paul, membuat perkawinan kristiani seringkali kehilangan maknanya.

"Di sini kita lihat perkawinan kristiani seringkali kehilangan maknanya ketika kita kurang menyadari apa yang sesungguhnya yang harus dijalankan di dalam hidup kita," jelasnya.

Halaman:

Editor: Achmad Marzoeki

Sumber: rilis

Tags

Terkini

UMP DKI 2023 Naik 5,6 Persen

Selasa, 29 November 2022 | 11:32 WIB

Sakit Pinggang, Penyebab dan Solusinya

Selasa, 29 November 2022 | 10:44 WIB

Aturan Baru Ketentuan Masa Usia PJLP Perlu Dievaluasi

Senin, 28 November 2022 | 10:29 WIB
X